Batik Tuban

Batik Tuban

Hi Ericovamili, kali ini saya berbagi cerita mengenai petualangan singkat saya ke desa pengrajin batik tulis di Tuban. Ya posisi saya di Desa Kerek Tuban. Kebetulan saya kesini karena teman-teman Lions Club ingin berkunjung untuk membeli oleh-oleh Batik Tuban sehabis berbagi amal pengobatan gratis di Klenteng Kwan Sing Bio dengan 1400an orang peserta pasien.

Ciri khas yang menjadi pembeda antara batik tulis di Tuban dengan batik tulis yang lain adalah pada cara pewarnaan yang tidak sama dan ditandai dengan sirip yang menjadi khas batik Tuban. Cara membedakan harga batik satu dengan batik yang lain adalah dengan membedakan zat warna dan tingkat kesulitan pengerjaan batik tersebut.

Setelah dengan pengamatan singkat, ukuran di tiap sentra toko batik disini tidak sama, kebetulan tempat saya berkunjung ini di Toko Batik Warna Jaya yang beralamatkan di Jl. Raya Jaro Rejo menggunakan ukuran panjang 2meter dan lebar 1,2 meter. Disini batik dibuat sendiri, terlihat pada blog saya Ericova ini proses pencantingan (penggambaran) batik.

Membuat batik memang tidak semudah berbicara, berdasarkan wawancara saya dengan mbak yang sedang mencanting, proses mencanting memakan waktu 1 hari untuk membuat pola. Untuk pewarnaan bisa sampai 2-3 kali proses celup untuk mendapatan hasil yang pas, sehingga total selesai pengerkaan batik memakan waktu 1 minggu untuk 1 batik yang dibuat 1 orang.

Okay, cukup sampai sekian cerita sharing saya mengenai Batik Tuban. Salam Ericovamili 🙂

Baksos Lions Club dengan Masyrakat Tuban

Baksos Lions Club dengan Masyrakat Tuban

Hi Ericovamili, kali ini saya berbagi cerita mengenai kisah saya baksos di Tuban tanggl 16 Oktober 2011, dengan total peserta pasien dengan sebaran kupon kegiatan ini sejumlah 1400. Woww prestasi yang luar biasa dan pengalaman pertama saya dengan jumlah peserta 1400an orang yang mana harus dilayani dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang.

Acara kegiatan bakti sosial ini bekerja sama dengan Lions Club Surabaya , Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Viva Kosmetik, Farmasi Universitas Surabaya, Universitas Tuban, Tenaga perawat dari Widya Kartika Surabaya, Dokter dari Tuban dan Surabaya. Lokasi acara ini berada di klenteng Kwan Sing Bio yang sangat besar dan luas serta sudah dikenal oleh masyarakat Tuban. Senang sekali Eric bisa membantu jumlah masyrakat sebesar ini, karena selama saya baksos di Lions Club belum pernah sebanyak ini low dalam tempo waktu 4 jam ! Padahal acara cuku padat dari proses registrasi, pemeriksaan tensi tekanan darah dan berat badan, pemeriksaan dokter, pembagian obat setelah pasien dari dokter.

Terima kasih untuk teman-teman semua yang telah turut membantu acara ini dari awal hingga akhir sehingga acara ini sukses dan masyrakat Tuban terlayani dengan baik.

Melantjong Petjinan Soerabaia : Bakcang

Melantjong Petjinan Soerabaia : Bakcang

Weiiitts Ericovamili ! kali ini saya berkesempatan untuk ikut tur melanjtong petjinan soerabaia. Setelah episode 3 yang aman event untuk petjinan berhubungan dengan pemakaman kali ini saya tidak melewatkan episode kampoeng kungfu, special di tanggal momentum fengshui 10-10-2010 ! 😀 episode kemarin yang melantjong petjinan menuju tuban saya tidak bisa hadir hehe :p

Ce Maya sedang briefieng para anggota

Seperti biasa markas besar selalu berkumpul di kediaman Ce Paulina Mayasari, founder dari Jejak Petjinan. Bertempat di Jl. Bibis no 3 (Bibisoversvaart straat 3) berkumpulah saya dengan para pelancong. Ehh ketemu Emak dari Ce Dian disini sekaligus Mak saya juga kekeke :p ga nyangka ternyata di part pertama yakni pembuatan bakcang dan sejarah bakcang ada Mak nongol dan masuk tipi :p hihihihi selamat ya mak 😀

Souvenir Melantjong Petjinan Soerabaia

Pembuatan Bakcang

Nah di markas sini di ajarkan bagaimana membuat bakcang. Untuk temen-temen muslim sudah disediakan bakcang ayam dan untuk yang suka babi juga sudah disediakan. Dalam demo yang dilakukan sudah dipersiapkan bahan-bahan yang sudah di buat sehingga tidak terlalu lama dalam proses pembuatan bakcang jadi tinggal kukus saja. Dengan mengambil nasi/ketan dimasukkan terlebih dahulu kemudian diiringi dengan daging dan terakhir dibungkus dengan daun pring (daun bambu). Setelah itu bakcang diikat dan dengan tali. Setelah itu bakcang siap dikukus.

 

Mak sedang mendemokan proses membuat bakcang

Sejarah Bakcang

Nah sejarah bakcang ini sebenarnya panjang banget tapi saya akan bagikan dari link sejarah yang saya ambil dari Bakcang Peneleh.

Sejarah bacang berasal dari tokoh Qu Yuan (343–289 SM). Qu Yuan adalah sastrawan terkemuka dari Kerajaan Chu. Bukunya sangat laris dan terkemuka, salah satunya Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki Kesedihan). Selain itu, ia juga dikenal sebagai menteri yang terpercaya dan setia. Kerena popularitas itu, rekan-rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkan dia. Rekannya adalah para penjilat kekuasaan yang bermanis-manis di depan raja dan berusaha menjatuhkan Kerajaan Chu dan lebur dalam Kerajaan Chin. Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi itu sehingga ia makin dibenci rekan-rekannya.

Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. Akibatnya raja menjadi makin sakit dan hanya bisa terbaring. Mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu menggantung bungkusan itu di langit-langit ranjang raja dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit di atas mulut raja supaya kesehatab raja pulih lagi.

 

Tidak sabar menikmati bakcang yang telah dibuat

Ketika hal itu diketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. Karena tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Lou. Mendengar berita ini rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan. Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus dengan bambu kerucut empat untuk dimakan ikan agar tidak mengigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh-roh naga jahat yang bisa mengganggu roh Qu Yuan.

Peristiwa ini dikenang tiap tahun dengan perayaan Peh Chun (bacang). Perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boat) yang diawaki sekitar dua puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang.

 

Bakcang yang dibuat para peserta

Itulah sejarah bacang. Keempat kerucutnya melambangkan empat kata Qu-Yuan-Setia-Percaya. Bacang adalah lambang penghormatan karakter terpercaya dan orang percaya malah tidak dipercaya dan bahwa orang setia malah didakwa. Bacang adalah ungkapan utuhnya percaya dan setia.

Lomba perahu naga dengan tim mencerminkan kerja sama yang baik, tidak sikut menyikut, setia satu sama lain, bisa dipercaya dan memercayai serta berani menghadapi segala tantangan demi kebenaran.

 

Perjalanan ke Bandung

Perjalanan dari Surabaya ke Bandung seharusnya 16 jam di tempuh dengan Bis, dimuali dari saya tiba di Agen Bis Bandung Express berada di Jl.Arjuna Surabaya jam 3 yang kemudian ke Terminal Bungurasih untuk menjemput penumpang lain yang berada di terminal pukul jam 4 sore. Setelah itu perjalanan dimulai. Sampai di Pemalang pukul setengah 4 subuh. Pukul 4 pagi tiba di Tegal. Jam 7 pagi tiba di Sumedang. Sampai di Bandung Jl.Soekarno Hatta pukul sekitar pukul 8.40 pagi.

Di Bis Bandung Ekspress akan ditemui toilet dalam bis, dan ketika perjalanan sampai di Tuban akan di ajak makan malam sebagai fasilitas dari Bandung Ekspress dalam perjalanan jauh ke Bandung di sebuah tempat rumah makan (lupa saya nama rumah makannya) dimana menu nya dapat anda ambil sesuka anda dan secara default akan diberi teh hangat sebagai hidangan minuman.

Untuk pulangnya kembali ke Surabaya. Saya naik kereta api kelas ekesekutif dari Bandung ke Surabaya dengan naik kereta api. Dari Stasiun Bandung Kota pukul 19:00 Malam dan tiba di Stasiun Gubeng Surabaya pukul 07.40 Pagi. Perjalanan menggunakan kereta api memakan waktu 12 jam-an. Untuk kelas eksekutif per-orang dikenakan biaya Rp. 320.000 dan biaya reservasi sebesar Rp.10.000.

Sebenarnya harga standard dari Kereta Turangga untuk tahun 2010 adalah Rp.220.000 namun berhubung saya di momen liburan jadi harga menjadi Rp.320.000

Review Sambel Pecel Kemangi

Review Sambel Pecel Kemangi




“Bumbu pecel yang berbeda dengan bumbu pecel yang ada di pasaran dan patut anda coba”

Pecel sudah bukan lagi makanan bagi kaum pedesaan namun juga sudah menjadi tujuan utama pencinta kuliner kota-kota besar. Rasa dari pecel tidak dapat dipungkiri di pengaruhi bumbu yang terdapat pada pecel itu sendiri. Bumbu pecel dibuat dengan nguleg (bahasa jawa mengaduk mencapur jadi satu dan di remas-remas dengan cara ditekan dalam wadah/layah) bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bumbu berwarna coklat khas pecel. Hal yang lama dan membosankan dalam nguleg membuat bumbu pecel, namun jaman sekarang bumbu pecel sudah bisa dinikmati di pasar,toko,supermarket dalam kemasan yang siap diolah.

Memang bumbu pecel yang saya tahu tersedia sekarang dibagi dalam 2 kategori umum seperti asal murah namun tidak mengutamakan kualitas rasa dan yang kedua pada kualitas namun memang harga yang ditanggung agak lebih.

Berangkat dari permasalahan seperti itu serta cara pengemasan yang pada umumnya membuat pengguna yang ingin memasak bumbu pecel menjadi bau dan pliket berminyak di tangan. Sambel Pecel Kemangi ini memilih dalam kualitas rasa.

Digawangi sendiri oleh Aditya yang asli orang Blitar dalam peracikanya dengan bumbu-bumbu alami tidak main-main seperti kacang tuban yang dipilih kualitas baik serta gula merah blitar yang rasa nya tidak perlu diragukan lagi, bawang putih, terasi dan kompisisi lainnya yang dapat dilihat di kemasan.


Formula resep yang dibuat oleh Adit panggilan pemilik nama lengkap Aditya Pramudita Susilo ini berawal hobinya yang wisata kuliner pecel, yang mana berpengalaman dalam dunia rasa pecel tidak perlu diragukan lagi hingga dia menemukan racikan resep bumbu sendiri yang dinamakan “Sambel Pecel Kemangi” ini.

Selera untuk bumbu pecel sudah dipertimbangkan oleh Adit dengan dibedakanya menjadi 3 rasa selera : tidak pedas, sedang dan pedas. Hebatnya lagi harga yang di bandrol cukup Rp.49.500 untuk sekilonya *dapat 4 toples berukuran 250gr, sebanding dengan kualitas yang kita dapatkan. Bumbu pecel ini tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali. Jadi untuk penyimpanan di kulkas mampu tahan hingga 30 hari sedangkan tanpa pendingin bisa mencapai 7 hari.


Kenapa yang digunakan trademark kemangi?menjadi pertanyaan bagi saya pada adit. Adit mengaku kalau makan pecel identik dengan sayur dan pastinya kemangi sebagai toping, kemangi mudah di dengar dan diingat, makanan pecel tidak ada kemangi juga tidak lengkap rasanya. Namun pada bumbu ini tidak mengandung kemangi hanyalah trademark saja agar mudah diingat.


Sebuah konsekuensi yang harus ditanggung dalam memuaskan pelanggan tidak hanya dari cita rasa namun juga kualitas layanan. Feedback dari pembeli sangat diutamakan oleh Adit. Dengan motto yang dipegang oleh pemilik Bumbu Pecel Kemangi ini “make enjoy the food and smile” menjadi pedoman dalam kulitas cita rasa serta layanan dalam menjamu pemesanan konsumennya.

Analisa :

  • Rasa (9/10) : Berbeda dengan bumbu pecel lainnya dilihat dari sisi komposisi racikan
  • Packing (9/10) : menggunkan toples yang memudahkan untuk dibuka dan penyimpanan sehingga tidak bau saat disimpan.
  • Tekstur (8//10) : Lembut dan mudah saat dilarutkan dengan air.
  • Pelayanan (8/10) : Memuaskan untuk pelayanan pengiriman delivery dan respon cepat.


Info : Sambel Pecel Kemangi ini sudah memasok di berbagai kota di Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra.


Untuk bisa memesan silakan langsung kontak ke:
Aditya / 08179699188